Rabu, 22 Mei 2013

Latihan-latihan Aneh Sebelum Menjadi Astronot

Latihan-latihan Aneh Sebelum Menjadi Astronot

VIVAnews - Berada enam bulan di ruang angkasa dengan jarak 370 kilometer dari permukaan Bumi bukan perkara mudah. Dan itu adalah tantangan terberat para astronot saat berada di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station/ISS).

Agar bisa menjadi astronot yang bekerja di ISS, diperlukan sejumlah pelatihan agar mampu bertahan hidup di ruang hampa udara.

Tim Peake, astronot pertama Inggris yang siap bertugas selama 20 tahun, berbagi kisah tentang bagaimana sulitnya pelatihan yang diberikan sebelum terbang ke ruang angkasa. Kisah Tim Peake ini dilansir Daily Mail, 22 Mei 2013.

"Banyak pelatihan aneh yang saya lakukan, mulai dari hidup seminggu di sebuah gua bawah tanah, dua minggu hidup di dasar laut, dan belajar bahasa Rusia untuk berkomunikasi di Stasiun Ruang Angkasa Internasional," kata Peake.

Dia menambahkan, pelatihan yang dilakukan selama 14 bulan itu bermacam-macam.

"Saya harus hidup dengan peralatan terbatas di gua-gua terpencil di Sardinia, kepulauan terbesar kedua di Laut Mediterania dan tinggal di laboratorium pada kedalaman 19 meter di Florida," ungkap Peake.

Itu saja tidak cukup. Ia juga mengatakan, kalau pelatihan paling aneh adalah belajar menggunakan alat musik didgeridoo -alat musik tiup dari kayu panjang yang dimainkan oleh Aborigin Australia-.

"Padahal, sebelumnya saya tidak terlalu khawatir dengan pelatihan yang akan dijalankan, mengingat dalam karir pilot, saya sudah pernah melakukan beberapa kali penerbangan berisiko tinggi," ujar Peake.


Untuk membuat fisiknya lebih tangguh, Peake harus beradaptasi di gua selama seminggu dan 12 hari di dasar laut.

Tim Peake dipilih oleh Badan Antariksa Eropa (European Space Agency) untuk menjadi astronot asal Inggris pertama yang akan dikirim ke ISS pada tahun 2015.

"Saya berjanji akan melakukan misi dengan baik dan dapat menginspirasi banyak orang. Saya juga akan melakukan tradisi dari Komandan Hadfield yang sering memposting keadaan di ruang angkasa melalui akun Twitter-nya," tutur Peake.

Sumber: teknologi.vivanews.com/news/read/414790-latihan-latihan-aneh-sebelum-menjadi-astronot

Hitachi Data Systems Terjun ke Bisnis Cloud

Hitachi Data Systems Terjun ke Bisnis Cloud

VIVAnews - Perusahaan-perusahaan penyedia cloud computing (komputasi awan) makin marak di Indonesia. Perusahaan ini menawarkan jasa teknologi penyimpanan data virtual atau digital di Internet.

Hitachi Data System Corporation (HDS), salah satunya. Pemain besar di kalangan penyedia server dan data center itu hari ini memperkenalkan solusi dan layanan baru bagi perusahaan untuk mengadopsi komputasi awan yang lebih mudah dan aman.

Ketertarikan HDS di bisnis komputasi awan dilatarbelakangi data eMarketer pada Mei 2011, yang memproyeksi penetrasi mobile Internet di Asia Pacific akan mencapai 1,2 miliar pengguna di tahun 2015.

Di samping itu, peningkatan jumlah pengguna ponsel pintar juga akan meningkatkan jumlah pengguna data-data di Internet, seperti e-mail. Ke depannya, tentu saja tren Bring Your Own Device (BYOD) akan meningkat pesat.

"Ini akan membuat pertumbuhan data meledak tidak terstruktur, kebutuhan akan akses data di mana saja, dan permintaan jaminan keamanan data," kata Pratyush Khare, Technical Director Cloud Solutions Asia Pasific HDS di Jakarta, hari ini.

HDS menawarkan tiga solusi komputasi awan terbaru, di antaranya Hitachi Content Platform Anywhere (HCPA), Hitachi Content Platform (HCP), dan Hitachi Cloud Services Connection (HCSC).

"HCPA adalah private cloud yang menawarkan sinkronisasi data dari komputer PC atau laptop, tablet, dan smartphone. Data dapat diakses dari mana saja dan perangkat apa saja. Jaminan keamanan data dijamin," ujar Khare.

Sementara, HCP adalah private cloud produk lama, tapi dengan wajah baru. Ini merupakan layanan cloud storage untuk segmen korporat, mendukung mobilitas pengguna, sekaligus menganalisis data-data.

"Yang terakhir, HCSC. Ini layanan Cloud yang paling diminati. Kenapa? Karena, layanan public cloud yang dihadirkan oleh Hitachi untuk dapat dijual kembali oleh para mitra kami. Kami yang mengelola infrastruktur dan solusi Cloud-nya," ujar Khare.

Target dari layanan komputasi awan dari HDS adalah perusahaan yang memiliki karyawan dalam jumlah besar, seperti sekolah, pemerintahan, perusahaan telekomunikasi, perusahaan perbankan dan asuransi.

"Harga dari layanan solusi cloud HDS fleksibel. Misalnya, produk HCPA dan HCP, untuk jumlah 2.000 orang, penggunaan storage dibanderol US$70 per user (setara Rp700 ribu), dan penggunaan software US$50 per user (Rp500 ribu). Penggunaan itu berlaku seumur hidup, tidak ada batas waktunya," kata Khare. (eh)

Sumber: teknologi.vivanews.com/news/read/415032-hitachi-data-systems-terjun-ke-bisnis--i-cloud--i-

2015, Iklan Digital Tembus Rp4,1 Triliun

2015, Iklan Digital Tembus Rp4,1 Triliun

VIVAnews - Telkomsel kembali menggeber iklan digital (digital advertising) untuk menyambut perubahan tren digital di kalangan pengguna ponsel.

Perubahan itu memberikan peluang potensial bagi pemilik brand dan pelanggan seluler untuk mendapatkan informasi yang relevan.

Adrian Suherman, Head of Digital Advertising Group Telkomsel menjelaskan, potensi pertumbuhan pasar iklan digital di Indonesia bakal mengalahkan pertumbuhan pasar periklanan secara umum.

Pada tahun 2012, Adrian memaparkan, total pertumbuhan periklanan Indonesia mencapai Rp33,6 triliun, dan diprediksi menjadi Rp51,2 triliun pada tahun 2015.

Sementara pasar iklan digital Indonesia, pada periode yang sama, hanya Rp0,7 triliun, dan akan menembus Rp4,1 triliun pada 2015.

"Dengan demikian, dalam tiga tahun, pertumbuhan advertising Indonesia hanya 15 persen, sedangkan pertumbuhan digital advertising mencapai 79 persen," ungkap Adrian di The Fondry, Kawasan SCBD, Jakarta, hari ini.

Ini dikarenakan meningkatnya penetrasi ponsel pintar, pola hidup berubah, dan masuknya pemain global seperti Google.

Dalam perkembangan pasar itu, Telkomsel menawarkan layanan digital advertising yang memberikan informasi relevan kepada pelanggan dan real time melalui perangkat mereka.

"Iklan digital Telkomsel menyasar segmen pasar secara relevan, baik dari sisi siapa target, waktu, maupun lokasi," tambahnya.

Sebuah informasi iklan tertentu yang dikirimkan ke perangkat pengguna, disesuaikan dengan kebutuhan, waktu, lokasi, usia, jenis kelamin, serta tipe perangkat pengguna. "Cara baru ini bisa bantu brand mencapai target market konsumen," ujarnya.

Dalam mengirimkan pesan iklan itu, Telkomsel hanya mengolah pola aktivitas komunikasi pengguna, bukan membuka data privat mereka.

Adrian menegaskan, layanan ini berbeda dengan SMS premium, sehingga pelanggan tetap tidak dikenakan biaya. "Bahkan saat pelanggan mengklik, atau mengunduh konten iklan," tegasnya.

Saat ini, layanan iklan digital Telkomsel mencakup MMS, video, iklan berbasis lokasi, display (Off Deck Banner, Interstitial Banner, On Deck Banner, Internet Filtering Ads, Application Ads), maupun Reward (mKupon, Scratch and Win, Bonus Pulsa). (umi)

Sumber: teknologi.vivanews.com/news/read/415026-2015--iklan-digital-tembus-rp4-1-triliun